An Opening Note: A Beginning from an End


Apa arti dari suatu kata?

Terdapat banyak konsep di dunia yang abstrak. Kita mungkin membaca atau mendengar definisinya, atau ikut percaya orang kebanyakan, dan membiarkannya berlalu.

Contohnya, apa arti kaya dan miskin? Kebahagiaan dan penderitaan?

Hubungan dan keterasingan? Masa lampau dan masa depan?

Kehidupan dan kematian?

Tapi, apa kalian pernah memikirkan, bisakah kita menginterpretasikan ulang konsep dari daftar kosa kata itu? Apakah kita bisa memberikan makna baru?

Pertanyaan itu terbesit di sela perjalanan 4 jam antara ibu kota dan sebuah desa di pelosok Kalimantan. Setelah sebuah pemakaman. Setelah proses dalam sebuah perpisahan.

~ I ~

Pulang kampung kali ini berbeda.

Ritual sebelumnya: saya akan tiba, membuka pagar rumah, lalu mengetuk tiga kali sambil mengucapkan salam, dan menunggu pintu dibukakan.

Saya pasti datang sembari menirukan suara tetangga, kemudian beliau akan menyambut dengan pukulan (bukan pelukan) ke bahu karena lagi-lagi saya mengejutkan beliau dengan kedatangan saya yang tidak diduga. Terkahir kali, beliau berkata sambil tertawa:

"Bungulnya... (eh, sialan)"

Jangan salahkan saya. Saya usil karena didikan beliau juga.

Tapi kali ini saya masuk sendiri dengan membuka kunci yang tersimpan di bawah keset. Saya tetap mengucap salam, meski kini tak lagi disambut dengan kikikan sengau itu.

Saya tidak menangis, seperti yang kami janjikan jika salah satu dari kami meninggalkan dunia. Tidak perlu repot datang di saat-saat terakhir. Sepertinya kami sepakat untuk tidak saling memperlihatkan air mata pada momen terakhir masing-masing. 

Dan beliau berpulang Sabtu lalu. Cepat. Tanpa aba-aba.

Saya tahu suatu saat akan ada panggilan untuk mengabari salah satu dari kami yang tiada. Dan, beliau lebih dari tahu, pasti giliran beliau datang lebih dulu. Beliau tak pernah memperlihatkan jika beliau lelah atau kesakitan, tetapi saya paham karena beliau selalu memilih menyimpan semuanya sendirian. 

Saya menggigit bibir ketika memasuki kamar tidur yang kini kosong. Saya tidak biasa melihat foto-foto beliau yang kini tidak diiringi narasi berulang tentang ada kejadian apa saat satu gambar diambil. Dulu suaranya terdengar seperti kaset rusak mode putar ulang. Hari ini, saya tak keberatan untuk dikutuk bosan mendengar ocehan monoton itu lagi.

Saya mengencangkan pelukan di lengan. Saya menahan pipi saya yang mulai panas.

Lalu, saya pergi ke dapur. Sosok yang biasanya bercanda, berteriak memaksa saya berhenti mencuci tumpukan piring, seraya memanasi sop ayam di kompor karatan pojok kiri dapur, sudah tak terlihat lagi. Yang tersisa hanya satu tas kumpulan plastik, alat-alat masak, kulkas rusak, dan kursi kayu yang kini terlihat lebih kosong dari biasanya. 

Tempat ini adalah ruang kami paling banyak menghabiskan waktu. Makan siang dan malam selalu menjadi rutinitas utama dalam sehari. Kami menceritakan apa yang terjadi selama kami tidak bertatap muka. Kadang-kadang ada gosip tentang si A yang baru cerai, si B yang melahirkan sungsang, atau si C yang diazab Tuhan sakit akibat karma melakukan XYZ. Namun lebih sering, kami membicarakan mimpi dan pelajaran dari sebuah pengalaman.

Dan di suatu senja, kami bercakap-cakap terkait makna kehidupan, dari kematian.

~ II~

"Lihat tas di belakang." Kata Nenek.

Saya menengok ke kamar 3x2 meter di pojok dapur. Sebuah koper merah bertuliskan 'alat pemakaman' berdiri tegap di antara tumpukan tas dan baju-baju. 

Saat percakapan ini sudah datang.

"Sepertinya tidak lama lagi." Kata Nenek dengan santai.

"Ah, kan Nenek harus lihat cucu Nenek yang sebentar lagi lahir. Si F belum nikah. Saya mau S3. Tahan dulu, lah." Saya bercanda sambil memakan rujak buah yang dibeli tadi pukul 17:24.

"Kalau Nenek sudah siap, kamu sudah siap?"

Saya sudah empat tahun tidak pulang, namun pertemuan kami tetap terasa ringan. Rutinitas biasa. Antar Nenek pulang-pergi kegiatan, makan siang, kegiatan antar-pulang lain, makan malam, tidur, ulang. Seperti kami tak pernah terpisah lama. Malam ini saya berangkat ke bandara untuk kembali bekerja di Makassar. Libur lebaran ditambah cuti dua hari sudah berakhir. Nenek tahu kami akan terpisah lagi. Namun, kali ini lebih lama, lebih jauh.

"Nenek sudah cukup dengan kehidupan?"

"Hm, Nenek sudah melihat anak dan cucu Nenek tumbuh besar membanggakan. D sudah punya keluarga. F punya bisnis sendiri. Kamu sudah S2. Apa lagi yang perlu Nenek bantu?"

Saya terdiam.

"Jika Nenek sudah siap, kamu sudah siap?"

Belum. Saya tak ingin menjawab pertanyaan itu. Saya masih ingin percaya Nenek akan hidup 100 tahun lagi. Saya masih ingin memikirkan bahwa panggilan tiap akhir pekan akan terus terjadi. Tapi, saya harus bersiap akan kepastian. Nenek tak akan hidup selamanya.

Saya memegang tangan nenek yang makin keriput. Saya memegang kakinya yang makin kurus. Saya menatap mata beliau. Saya tertawa.

"Nenek kan kuat dan luar biasa. Pasti Nenek akan hidup sampai saya wisuda S3, kan?"

"Hidup sepuluh tahun lagi? Bah, aku tidak mau!"

"Coba lihat, cuma Nenek satu-satunya toh orang tua yang makin berumur, bukannya rambut putih yang bertambah, malah rambut pirang."

Percakapan teralihkan membahas rambut Nenek yang entah kenapa akhir-akhir ini berubah warna menjadi kuning. Sepertinya salah shampo, kata beliau. Apapun itu, ini terasa lebih ringan. Karena saya belum sanggup mengucapkan selamat jalan. 

Saya menyalami tangan beliau, melambaikan tangan, dan meninggalkan rumah. Nenek melontorkan lelucon terakhir dan saya tertawa cekikikan. Semuanya berjalan normal. Walaupun kami tahu, ini bukan perpisahan biasanya.

Hari itu, terakhir kalinya saya menatap wajah Nenek.

~ III~

Apa arti dari sebuah kata?

Nenek bertanya apakah saya sudah "siap" atau tidak. Nenek tak hanya bertanya terkait bagaimana jika kami sudah tidak bersama lagi, tapi apa arti dari kehidupan saya sendiri.

Nenek selalu mengingatkan bahwa kematian adalah hal yang niscaya. Semakin cepat kita menerima faktanya, semakin kita cepat berdamai dengan menemukan maknanya.

Saya pun teringat petikan novel dari Mitch Albom :

“Every day, have a little bird on your shoulder that asks, 'Is today the day? Am I ready? Am I doing all I need to do? Am I being the person I want to be? Is today the day I die?”

The truth is, once you learn how to die, you learn how to live.

Hanya dengan memahami kematian, kita akan mempelajari kehidupan.

Beliau benar. Saya harus menemukan makna hidup saya. Saya harus menemukan alasan mengapa saya harus tetap bertahan hidup meski kini ditinggal beliau seorang diri.

Bagi beliau, makna kehidupan sederhana. Tumbuh kuat meski seorang anak yatim piatu, menabung uang hasil jualan kue dan kayu bakar, belajar keras dengan lilin tiap malam hingga menjadi seorang guru. Beliau menemukan makna dari pergi mendidik anak-anak pelosok seperti kami, mencerdaskan dan memberi pengharapan, meski dengan keterbatasan desa pedalaman. Beliau pun memberikan segalanya bagi saya hingga saya bisa berkuliah S2 di Korea. Bagi beliau, mimpi itu terwujud.  Melihat anak-anak mendapatkan masa depan yang lebih pantas dan lebih baik. Semua sudah cukup.

Namun, bagaimana dengan saya? Apa makna kehidupan bagi saya?

Saya menunda memikirkannya karena saya takut. Saya takut akan keterasingan hidup tanpa kehadiran seseorang yang saya cintai. Saya takut membuka mata dan menyadari bahwa tak ada lagi panggilan Nenek akhir pekan ini. Saya takut akan kehidupan tanpa Nenek.

Namun, Nenek benar. Saya harus mencari arti, "untuk apa saya hidup hari ini?"

~ IV~

Saya terdiam menatap makam nenek. Perpisahan itu sudah terjadi. Namun, pertanyaan baru muncul. Apa yang akan saya lakukan tanpa nenek?

Saya memikirkan apa yang saya cintai selama saya tumbuh besar dengan Nenek. Belajar. Saya tak merasa waktu berlalu ketika saya membaca tumpukan buku dan riset penelitian dari berbagai negara. Menulis. Saya merasa senang ketika menuangkan ulang apa yang saya pelajari dan mengajak orang berdialetika atas sebuah teori. 

Bertualang. Saya menyukai menginjakkan kaki di belahan bumi berbeda dan melihat bagaimana masyarakat lain memiliki  filosofi mereka sendiri. Menolong. Saya menemukan arti ketika saya sudah meninggalkan kontribusi ke dunia ini, sekecil apapun itu.

Dan saya memutuskan tujuan hidup baru:

Saya ingin mendefinisikan ulang hal-hal yang kita terima dari masyarakat banyak.

Memberikan makna baru kekayaan sesungguhnya, mengidentifikasi siapa yang memang benar miskin, terlepas standar material yang kerap membuat kita merasa tak cukup. Menemukan kembali apa arti kebahagiaan dan memahami ulang penderitaan yang tak bisa lepas dari kenyataan yang harus kita hadapi. 

Untuk mendalami hubungan yang ingin kita jaga dan menganalisis kapan kita benar-benar terasing. Untuk menemukan pelajaran dari masa lampau dan harapan dari masa depan.

Untuk memberikan makna kehidupan sebelum kita berjumpa dengan kematian.

Hari ini, saya memutuskan untuk rutin menuliskan karya melalui blog ini yang saya harap bisa menyentuh orang banyak untuk memikirkan kembali berbagai konsep kata. Saya akan berusaha konsisten mengunggah artikel setelah membaca buku atau jurnal ilmiah, setelah wawancara dengan banyak orang untuk menggali kebijaksanaan unik tiap orang, setelah saya menjelajahi pelosok dan mempelajari perspektif dari budaya yang berbeda.

Bisa jadi tahun depan, tiga bulan lagi, atau boleh jadi hari ini, giliran saya yang tiada. Tapi, tak masalah. Karena saya sudah melakukan apa yang ingin saya capai hingga saat ini. 

Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian sudah siap? 

Apa arti kehidupan yang tak kalian sesali meski jika dunia akan kalian tinggalkan esok hari?

In Memory: A divine miracle embodied in a human being.

My Grandma

Komentar